Inner Beauty > Outer Beauty

Perlu diketahui bahwasannya kecantikan itu terbagi menjadi dua, kecantikan lahir (outer beauty) & kecantikan batin (inner beauty).

Kecantikan lahiriah adalah perhiasan yang dianugerahkan secara khusus oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada rupa sebagian orang dan tidak dianugerahkan kepada sebagian yang lainnya, sebagai bonus ciptaan bagi yang bersangkutan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya :

يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ

“Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” [Faathir : 1]

Menurut ulama tafsir, bahwa yang dimaksud adalah seperti suara yang indah dan rupa yang baik. Dan hati manusia pada asalnya diciptakan menyukai hal itu, sebagaimana fitrah menilainya sebagai hal yang baik. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”

قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً

Ada seseorang yang bertanya : Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?

قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. [1]

Sedangkan kecantikan batin merupakan suatu hal yang keberadaannya memang disukai, seperti kecantikan ilmu dan akal, sifat pemurah, serta sifat suka memelihara kehormatan dan keberanian. Kecantikan batin ini adalah objek perhatian Allah subhanahu wa ta’ala terhadap hamba-Nya dan bagian yang dicintai-Nya sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits :

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak memandang kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta benda kalian, melainkan Allah memandang kepada hati dan amal perbuatan kalian.” [2]

Kecantikan batin ini menghiasi rupa lahiriah dan mengenakan pada pelakunya kemuliaan, kewibawaan, dan keindahan sesuai dengan apa yang dapat diraih oleh rohaninya dari sifat-sifat tersebut. Sesungguhnya seorang mukmin itu dianugerahi kewibawaan dan kemuliaan sesuai dengan kadar imannya. Siapa pun yang melihatnya akan merasa segan dengannya, dan siapa pun yang bergaul dengannya niscaya akan menyukainya dan sesungguhnya ini merupakan realita yang dapat disaksikan oleh mata kepala kita. Sesungguhnya jika anda melihat seorang laki-laki yang shalih, baik, lagi berakhlaq mulia, akan terlihat oleh mu sebagai seorang yang paling tampan rupanya meskipun dia seorang yang berkulit hitam atau orang yang tidak tampan. Terlebih lagi jika selain itu dia juga seorang yang dianugerahi sifat rajin mengerjakan qiyamul lail, maka sesungguhnya wajahnya akan tampak bercahaya dan makin menambah ketampanannya.

Kecantikan batin juga merupakan karunia terbesar dari Allah subhanahu wa ta’ala atas hamba-Nya, begitu pula kecantikan batin, ia merupakan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala pula atas hamba-Nya yang wajib disyukuri. Jika yang bersangkutan mensyukurinya dengan bertaqwa kepada-Nya dan memeliharanya, maka kecantikannya makin bertambah di samping kecantikan lainnya. Sebaliknya, jika ia menggunakan kecantikannya untuk durhaka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan membalikkannya menjadi sesuatu yang lahir di dunia sebelum di akhirat, sehingga kecantikan itu akan berubah menjadi buruk, jelek, mengerikan, dan menjijikkan setiap orang yang melihatnya.

Setiap orang yang tidak bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketampanan dan kecantikan yang dimilikinya, maka niscaya hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang buruk dan akan membuatnya dipandang jelek di kalangan orang lain. Kecantikan batin dapat mengalahkan keburukan rupa lahiriah dan dapat menutupinya, sedang keburukan batin dapat mengalahkan kecantikan lahiriah dan dapat menutupinya.

Wahai orang yang tampan wajahnya tetapi suka berbuat keburukan,

janganlah engkau gantikan perhiasanmu dengan keburukan.

Wahai orang yang buruk wajahnya tetaplah engkau berbuat baik,

jangan sampai kau himpunkan dua keburukan.

Seorang yang bijak mengatakan bahwa dianjurkan bagi seorang hamba untuk berkaca setiap harinya. Jika dia telah melihat ketampanan rupanya, maka janganlah membuatnya menjadi buruk karena keburukan perbuatannya.

_________________

[1] HR Muslim no. 91 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

[2] HR Muslim no. 2564 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Maroji’ :

  1. Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhah al Musytaaqiin karya Ibnul Qayyim rahimahullah, edisi indonesia Taman Orang-orang yang Sedang Jatuh Cinta & Tamasya Orang-orang yang Sedang Dimabuk Rindu. [download kitab asli]

5 Komentar to “Inner Beauty > Outer Beauty”

  1. apik mas. barakallahu fikum…

    wafiik barakallah ^^

  2. bismillah . . . Ijin ngopy ya akhiy. Jazakallahukhoyron

    silakan akhy, wa jazakallahu khairan

  3. Alhamdulillah, ada link kitab Raudhatul Muhiibinn, apa ada yang berbahasa ‘arab?

  4. Kecantikan dari dalam segalanya,dibanding kecantikan lahir yang belum tentu kita bisa menjaga keindahan tersebut. Bahkan bisa menimbulkan hal-hal yang buruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: