Cukupkah Hanya dengan Niatan Baik?

Ketika di samping Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ada seorang laki-laki, tatkala laki-laki itu bersin dia mengucapkan : “Alhamdulillah sholawat dan salam bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Benar, shalawat dan salam bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi jangan engkau mengucapkannya di saat ini, sebab yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada kita adalah barang siapa yang bersin maka ucapkanlah Alhamdulillah [1]  tanpa tambahan Shalawat dan salam bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR At Tirmidzi) [2]

Asy Syaikh Salim Bahmuriz hafizhahullah menjelaskan :

“Mungkin ada yang berkata : “Inikan perbuatan baik?” Maka kita katakan : “Betul ini kebaikan, tapi bukan di sini tempatnya.” Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah, maka kita harus meletakkannya di tempatnya, andaikan di setiap waktu engkau mau bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak ada satu orang pun yang akan menegurmu. Akan tetapi ketika engkau meletakkannya dalam posisi amalan ibadah tertentu, maka ini termasuk bid’ah.”

Dikisahkan ketika Sa’id bin Musayyib (Beliau adalah seorang tabi’in yaitu murid dari shahabat) melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua roka’at, ia memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib berkata : “Kenapa engkau lakukan ini?”

Orang itu menjawab : “Saya shalat untuk Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan banyak sunnah.”

Beliau berkata : “Jangan kau lakukan, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang orang-orang untuk melakukan shalat sunnah setelah adzan subuh kecuali dua rakaat saja.”

Orang tadi berkata : “Apa engkau melarangku melakukan shalat?

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى, عَبْدًا إِذَا صَلَّى

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat.” [Al ‘Alaq : 9-10] Apakah Allah subhanahu wa ta’ala akan menyiksaku dengan sebab shalat?”

Beliau menjawab : “Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengadzabmu dengan sebab shalat, tetapi Allah akan mengadzabmu karena menyelisihi as-Sunnah. Tidakkah engkau telah mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” [An Nuur : 63] [3]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan :

“Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian menyerang ahlus sunnah dan menuduh bahwa mereka (ahlus sunnah) mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlu bid’ah dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, shalat dan lain-lain.” [4] 

Diriwayatkan pula dari Imam Darul Hijrah Imam Malik rahimahullah bahwa ada seseorang yang datang menemui beliau seraya berkata : “Wahai Imam, saya hendak berihram untuk haji, maka dari manakah saya berihram?”

Imam Malik menjawab : “Berihramlah dari Dzulhulaifah dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berihram darinya.” [5]

Orang itu berkata : “Tapi aku ingin berihram dari Masjid Nabawi.”

Imam Malik berkata : “Jangan kau lakukan!”

Orang itu berkata : “Kenapa wahai Imam?”

Imam Malik berkata : “Aku khawatir fitnah akan menimpamu.”

Orang itu berkata : “Fitnah apa yang akan terjadi sedangkan aku hanya menambah beberapa mil saja?”

Imam Malik menjawab : “Tidakkah engkau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.” [An Nuur : 63] [6]

_______________

[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap, maka apabila salah seorang dari kalian bersin dan bertahmid (Alhamdulillah) kepada Allah maka wajib atas seluruh muslim yang mendengarkannya untuk mengatakan : Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu), adapun menguap maka sesungguhnya dia dari syaithan, maka apabila salah seorang dari kalian menguap maka hendaknya dia tahan semampunya.”  (HR Al-Bukhari  no. 6226)

[2] Disampaikan oleh Asy Syaikh Salim Bahmuriz hafizhahullah ketika Dauroh Masyayikh 2005 di Yogyakarta.

[3] Dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dalam Sunan Kubro : 2/46 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil : 2/236.

[4] Irwa’ul Gholil : 2/236.

[5] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan miqat bagi penduduk Madinah di Dzulhulaifah, bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Najd di Qarnul Manazil, bagi penduduk Yaman di Yalamlam.” (HR Bukhari dan Muslim)

[6] Disampaikan oleh Asy Syaikh Salim Bahmuriz hafizhahullah ketika Dauroh Masyayikh 2005 di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: