I’tikaf Hanya di Tiga Masjid?

Dalam permasalahan ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa i’tikaf tidak sah selain jika dilakukan di tiga masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi & Masjidil Aqsha), pendapat ini lemah karena berdalilkan dengan hadits yang lemah dari sisi riwayat dan pemahaman. Dalil itu adalah hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu :

لاَاعْتِكَافَ إِلاَّ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ

“Tidak ada i’tikaf selain di tiga masjid.”

Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ (sebagai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) oleh Sa’id bin Manshur dalam kitab As Sunnah dan Ath Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar.

Namun hadits ini diriwayatkan pula secara mauquf (sebagai ucapan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu sendiri) oleh Ath Thabarani dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, ‘Abdurrazaq dalam kitab Al Mushannaf, dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf. Adapun lafazh riwayat ‘Abdurrazaq adalah :

قَلَ حُذَيْفَةُ لِعَبْدِ اللهِ : قَوْمٌ عُكُوْفٌ بَيْنَ دَارِ أَبِي مُوْسَى لاَ تَنْهَاهُمْ؟

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Engkau melihat suatu kaum melakukan i’tikaf (di masjid) antara rumahmu dan rumah Abu Musa Al Asy’ari, namun engkau tidak melarang mereka?”

فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ : فَلَعَلَّهُمْ أَصَابُوا وَ أَخْطَأْتَ, وَحَفِظُوْا وَنَسِيْتَ؟

‘Adullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah. Mereka yang hafal (Sunnah Rasulullah) dan engkau yang lupa.”

فَقَالَ حُذَيْفَةُ : لاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِي هذِهِ الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata lagi, “Tidak ada i’tikaf selain di tiga masjid.”

Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Riwayat mauquf ini menunjukkan bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tidak berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menyelisihinya dan membolehkan i’tikaf di seluruh masjid. Seandainya memang ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak menyelisihinya.”

Yang menguatkan hal ini adalah pada riwayat Sa’id bin Manshur yang marfu’ itu ada tambahan riwayat dengan lafazh :

       أَوْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ

“Atau di masjid jama’ah.”

Yaitu masjid jami’ yang ditunaikan padanya shalat Jum’at. Asy Syaukani rahimahullah pun mengomentari riwayat ini, “Demikian pula, keraguan yang ada pada periwayatan itu (di tiga masjid atau di masjid jama’ah) termasuk hal yang melemahkan pendalilan dengan salah satu bagian dari hadits tersebut.”

Dengan ini pula Ibnu Hazm rahimahullah menyatakan hadits ini lemah. Beliau berkata, “Keraguan ini dari Hudzaifah sendiri atau periwayat setelahnya (yang dibawahnya). Tidak dibenarkan memastikan bahwa hadits tersebut berasal dari Rasulullah dengan adanya keraguan pada periwayatannya. Seandainya Rasulullah telah mengucapkannya, tentu Allah akan menjaganya untuk umat ini dan tidak akan disisipi oleh keraguan pada periwayatannya.”

Adapun yang menyatakan hadits ini shahih adalah Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ash Shahihah (no. 2786) dan Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah dalam risalah Idhah Ad Dalalah fi Tahqiq Hadits La I’tikaf Illa fil Masajid Ats Tsalatsah. Namun Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al Wushabi tidak menyatakan bahwa i’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid. Beliau justru mengambil bagian kedua dari hadits untuk berpendapat bahwa i’tikaf hanya sah dilakukan di masjid jama’ah (masjid jami’). Beliau menukilkan pula bahwa ini adalah pendapat Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahullah.

Seandainya pun hadits Hudzaifah ini dinyatakan shahih, tetap saja tidak bisa dijadikan dalil untuk membatasi i’tikaf hanya sah dilakukan di tiga masjid. Sebab hadits ini harus dipadukan dengan dalil-dalil lain yang menunjukkan bolehnya i’tikaf di selain tiga masjid. Dengan demikian hadits ini harus ditafsirkan dengan makna “Tidak ada i’tikaf (yang sempurna) selain di tiga masjid atau masjid jama’ah.”

Dengan ini tampaklah bahwa pendapat yang kami pilih adalah pendapat yang terbaik, wallahu a’lam.

Lihat pembahasan ini pada kitab Al Muhalla (no. 633), Bidayah Al Mujtahid (2/610), Al Mughni (4/461-463), Al Majmu’ (6/507-508), Fathul Bari (Kitab Al I’tikaf Bab Al I’tikaf fi Al ‘Asyri Al Awakhir), Nail Al Authar (Kitab Al I’tikaf penjelasan hadits Hudzaifah), Asy Syarh Al Mumti’ (6/504-507), dan Majmu’ Al Fatawa li Ibni Baz (14/436). [1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata dalam al-Fatawa :

“Termasuk perkara yang sangat jauh dari kebenaran adalah Allah Subhanahu wa ta’ala berbicara kepada umat ini dengan pembicaraan yang tidak mencakup kecuali sebagian kecil dari mereka. Adapun hadits Hudzaifah bin al-Yaman : “Tidak ada I’tikaf kecuali di ketiga masjid.” Maka jika hadits tersebut selamat dari cacad, hadits tersebut adalah penafian kesempurnaan, yaitu bahwa i`tikaf yang sempurna adalah dilakukan di ketiga masjid tersebut, yang demikian itu dikarenakan kemuliaan dan keutamaan ketiga masjid tersebut di atas yang lain. Permisalan susunan ini banyak -yang saya maksudkan adalah bahwa terkadang yang diinginkan adalah penafian kesempurnaan bukan penafiah hakikat dan keabsahannya- seperti sabda Nabi :

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ

“Tidak ada shalat (yang sempurna) dengan hadirnya makanan.” Dan hadits yang lain.

Dan tidak diragukan lagi bahwa hukum asal di dalam penafian adalah penafian hakikat syar`iyah atau hissiyah. Akan tetapi jika ada dalil yang menghalanginya, maka tidak diambil secara lahiriyah. Sebagaimana hadits Hudzaifah, jika selamat dari cacad.” [2]

_____________

[1] Penjelasan Al Ustadz Muhammad Sarbini hafizhahullah.

[2] Fatawa ash-shiyam (493).

Maroji’ :

  1. Fikih Puasa Lengkap Bab XV Ibadah I’tikaf penulis Al Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad As Sarbini Al Makassari penerbit Oase Media.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: