Menulis Ilmu yang Disampaikan oleh Guru [Revisi]

Rasulullah shallallaahu ‘ alaihi wa sallam bersabda,

قَيِّدُ الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

Ikatlah ilmu dengan tulisan.” [1]

Diceritakan dari ustadz kami bahwa banyak dari kitab-kitab para ulama yang merupakan transkrip/ketikan dari muhadharah/ceramah yang disampaikan para ulama yang ditulis oleh murid-muridnya. Salah satunya adalah kitab ٍSyarh Ushul min ‘Ilmil Ushul karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah.

Kitab setebal 672 halaman tersebut adalah hasil dari muhadharah beliau ketika membahas matan Ushul min ‘Ilmil Ushul karya beliau sendiri, yang diketik/ditranskrip oleh murid-muridnya sehingga bisa disusun menjadi sebuah kitab. Sebelum dicetak menjadi sebuah kitab, hasil transkrip yang sudah selesai tadi diserahkan kepada Syaikh, lalu beliau mengoreksinya. Agar beliau bisa menambahkan apa yang perlu ditambahkan atau mengurangi apa yang sekiranya tidak diperlukan. Setelah selesai  dikoreksi baru dicetak dalam bentuk sebuah kitab.  Sehingga ketika membaca kitab Syarh Ushul min ‘Ilmil Ushul sama seperti mendengarkan muhadharah beliau. Subhanallah

Dan juga kitab Syarh Kitabit Tauhid karya Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi yang berjudul Syarhul Muujaz Al Mumahhad Li Tauhiidil Khooliqil Mumajjad Alladzii Allafahu Syaikhul Islam Muhammad yang setebal 376 halaman tersebut adalah hasil dari penjelasan beliau rahimahullah yang ditulis oleh murid-muridnya.

Karena desakan dari murid-muridnyanya agar beliau mensyarah Kitabut Tauhid Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, karena mereka belum cukup dengan syarah-syarah yang sudah ada. Sehingga Syaikh pun mendiktekan kepada murid-muridnya penjelasan dari Kitabut Tauhid tersebut. Tatkala syarah beliau dilihat oleh sebagian muhsinin, maka syarah beliau tersebut dicetak menjadi sebuah kitab dan disebar luaskan. Sebagaimana dijelaskan dalam muqaddimah kitab tersebut.

Mungkin kita belum mampu untuk melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh murid-murid Syaikh ‘Utsaimin atau seperti murid-murid Syaikh Ahmad An Najmi hafizhohumullah. Dikarenakan keterbatasan kemampuan kita dalam berbahasa arab atau kecepatan dan ketelitian dalam mentranskrip.  Setidaknya kita bisa mencatat apa yang telah disampaikan oleh ustadz kita ketika kajian. Kalau bisa mencatat semua yang disampaikan ustadz, mulai dari awal kajian sampai akhir kajian maka itu adalah hasil yang luar biasa. Namun jika hanya bisa mencatat beberapa faidah-faidah, maka alhamdulillah, bisa digunakan untuk mengulang kembali di keesokan harinya.

Karena sebuah karya tulis yang didalamnya terdapat ilmu agama yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain merupakan salah satu amalan yang tidak terputus walaupun penulisnya telah meninggal.  Sebagaimana dijelaskan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga hal : Sedekah jariyah (yang mengalir) atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya.” [2]

Dan juga sebuah karya tulis yang terdapat ilmu yang bermanfaat bisa menjadi sedekah jariyah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah dalam Syadzaraat fii Fadhlil ‘Ilmi wa Ahlihi wa Maa Yanbaghii Ayyakuuna ‘Alaihi Tholabatuh hal. 11 :

Pada hadits yang mulia ini terdapat petunjuk atas keutamaan ilmu atas pemiliknya. Orang yang mewariskan ilmu, apakah dengan cara mengajarkannya atau membuat sebuah karya, serupa nilainya dengan sedekah-sedekah yang mengalir pahalanya. Yang kemanfaatannya terus mengalir bagi seorang ‘alim walaupun dia telah wafat. Dikarenakan sabda beliau,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikpun pahala mereka. Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikruinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” [3]

Oleh karena itu tetap bersemangatlah dalam menulis ilmu yang disampaikan oleh seorang guru. Dan juga jangan lupa memperhatikan kerapian tulisan agar tulisan kita juga bisa diambil kemanfaatannya oleh orang lain. Karena tulisan itu ada 3 jenis :

  1. Yang pertama adalah tulisan yang penulisnya dan orang lain bisa membacanya.
  2. Yang kedua adalah tulisan yang penulisnya bisa membacanya akan tetapi orang lain tidak bisa membacanya.
  3. Yang ketiga adalah tulisan yang penulisnya saja tidak bisa membacanya apalagi orang lain.

Untuk memberikan motivasi agar lebih bersemangat dalam mengabadikan ilmu yang disampaikan oleh guru dalam bentuk tulisan. Maka kami bawakan contoh, sebuah buku yang telah dicetak yang merupakan hasil transkrip dari penjelasan ustadz ketika mensyarh kitab ulama dalam majelis ta’limnya. Yaitu buku dengan judul “Fikih Puasa Lengkap” terbitan Oase Media.

Buku setebal 340 halaman ini merupakan penjelasan dari  Al Ustadz Abu’Abdillah Muhammad As Sarbini Al Makassary (Mudir Ma’had Minhajus Sunnah Muntilan) ketika beliau mensyarh kitab Manhajus Saalikin wa Taudhiihul Fiqhi Fiddiin bab Kitabush Shiyaam karya Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di. Yang merupakan hasil transkrip dari Abu ‘Abdirrahman Muhammad bin Munir Al Marghubi.

Allohu a’lamu bish shawab

_________________________

[1] Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ dan mauquf. Di antara perawi yang meriwayatkannya secara marfu’ adalah Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Taqyiidul Ilmi, karya Yusuf Al-’Isy hal. 69, Al-Hakim, 1/106 dengan judul :  Qayyiduu Al-’Ilma. Saya bertanya, “Bagaimana cara mengikatnya.” Beliau menjawab, “Tulislah.” Al-Albani berkata : “Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam dan tidak shahih. Diriwayatkan pula dalam buku Takhrijul ‘Ilmi karya Ibnu Abi Khaitsamah no. 120, tetapi beliau menshahihkan hadits ini dengan jalannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 2026 dan hadits ini mauquf, yang ditakhrij oleh Al-Hakim, 1/106. Ath-Thabrani mentakhrij dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dari Anas, 1/246. Al-Haitsami berkata : “Rijalnya adalah rijal yang shahih.” Lihat Al-Majma’,1/152, dan riwayatnya dishahihkan oleh Al-Hakim dari ‘Umar bin Khattab dan Anas radhiyallahu ‘anhum, serta dishahihkan pula oleh Adz-Dzahabi dari perkataan Anas, Al-Mustadak, 1/106.

[2] HR Muslim no. 4223 dari Abu Hurairah.

[3] HR Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah.

Maroji’ :

  1. Syarhul Muujaz Al Mumahhad Li Tauhiidil Khooliqil Mumajjad Alladzii Allafahu Syaikhul Islam Muhammad karya Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi.
  2. Syadzaraat fii Fadhlil ‘Ilmi wa Ahlihi wa Maa Yanbaghii Ayyakuuna ‘Alaihi Tholabatuh karya Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al Abbad.

One Comment to “Menulis Ilmu yang Disampaikan oleh Guru [Revisi]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: