Permasalahan Kultum Sebelum Shalat Tarawih

Di  Indonesia sudah ma’ruf adanya kultum/ceramah sebelum shalat tarawih pada bulan ramadhan, terkadang di sebagian masjid ada juga kultum/ceramah setelah shalat subuh. Lalu bagaimana hukumnya? Berikut ini adalah penjelasannya.

Penjelasan dari Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan :

Bagaimana hukum ceramah atau nasehat yang disampaikan di antara atau di tengah-tengah shalat Tarawih secara kontinu?


Beliau menjawab :

Tidaklah mengapa sekiranya (imam) berdiri untuk dua raka’at selanjutnya lantas melihat ketidaklurusan atau celah dan kerenggangan pada shaf para makmum, kemudian ia berkata :

اِسْتَوُوْا أَوْ تَرَاصُّوْا

“Luruskan atau rapatkan (shaf)!” Yang semacam ini tidak mengapa.

Adapun ceramah atau nasehat (seiring atau di antara shalat Tarawih), maka jangan. Sebab yang demikian bukanlah petunjuk Salaf. Akan tetapi, nasehat dapat disampaikan sekiranya memang ada kebutuhan untuk itu, atau selepas shalat Tarawih jika diinginkan. Namun, apabila diniatkan sebagai ta’abbud (ritual ibadah) maka terjatuh pada bid’ah. Dan, tanda hal tersebut dilakukan dengan niat ta’abbud adalah dengan melakukannya secara kontinu setiap malam.

Selanjutnya, kami katakan :

Wahai Saudaraku, mengapa Anda memberi ceramah kepada manusia? Bukankah bisa jadi sebagian orang memiliki kesibukan dan ingin segera menyelesaikan shalat Tarawih, dan berpaling (bersama imam sampai akhir selesai sholat) untuk mendapatkan ucapan Nabi shalaLlāhu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang melakukan shalat (Tarawih) bersama imam sampai imam selesai dan berpaling maka dicatat baginya shalat semalam penuh.” [1]

Kalaupun Anda senang (memberi) ceramah dan setengah, bahkan 3/4 dari jama’ah pun senang dengan ceramah tersebut, maka janganlah memenjarakan 1/4 sisanya karena kecintaan 3/4 jama’ah tadi. Bukankah Rasulullah shalaLlāhu ‘alaihi wa sallam berkata, yang kurang lebihnya :

إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفُ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ ضَعِيْفٍ والْمَرِيْضِ وَذِي الْحَاجَةِ

“Jika seseorang dari kalian mengimami manusia, maka ringankanlah, sebab di belakangnya terdapat orang yang lemah, sakit atau memiliki keperluan.” [2]

Maksudnya, janganlah menyamakan kondisi manusia dengan kondisi dirimu atau mereka yang menyukai ceramah tersebut. Namun samakanlah manusia dengan hal-hal yang melegakan mereka. Shalatlah Tarawih bersama mereka. Selepas shalat, setelah Anda dan orang-orang berpaling dari shalat, maka silahkan Anda menyampaikan apa yang Anda sukai dari ceramah. Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal shalih. Berikan kabar gembira kepada mereka untuk menghadiri majelis tersebut. Sebab :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan permudah jalannya menuju surga.” [3]

Al-Hamdu liLlāhi Rabbil ‘ālamīn. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. [4]

Penjelasan dari Al Ustadz Muhammad bin ‘Umar As Sewed hafizhahullah

Pertanyaan :

Pada sebagian umat Islam, jika selesai salat tarawih, sebelum tarawih pasti ada kultum. Apa ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa itu bid’ah?

Jawaban :

Namanya kultum atau nasihat, kapan saja boleh. Setelah tarawih, sebelum tarawih, atau sebelum salat witir, semua boleh. Kita memberikan nasihat ketika berkumpulnya mereka, tetapi jangan dianggap bahwa itu sesuatu yang wajib atau sesuatu yang syari’at harus begitu. Tidak diperintahkan pada waktu tertentu setelah tarawih.

Tidak diperintahkan pada waktu tertentu sebelum tarawih. Tidak diperintahkan pada waktu tertentu sebelum witir.  Itu sekedar nasihat yang kapan saja boleh sehingga jangan sampai diyakini bahwa itu adalah sesuatu yang disyariatkan harus begitu. Kalau khawatir dikira oleh masyarakat bahwa itu adalah sesuatu yang wajib (sesuatu syariat) maka sesekali diliburkan.

Jika ada yang bertanya, “Kok nggak ada kultum?”

Maka dijawab, “Iya, libur.”

Jika tanya lagi, “Kok bisa libur?”

Dijawab, “Ya karena memang tidak diwajibkan dan tidak ada perintah harus begitu.” 

Atau diganti sesekali ba’da tarawih, sesekali sebelum tarawih, sesekali setelah shalat tarawih sebelum witir, setelah kultum baru witir. Silakan. Na’am, wallahu ta’ala a’lam.

Dengarkan langsung :

[download]

[‘

______________________

[1] HR Ahmad dan Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2] HR Bukhori no. 662.

[3] HR Muslim

[4] Liqā ‘al-Bāb al-Maftūh, Kaset no. 118. Disadur dari Tanya Syariah.

2 Komentar to “Permasalahan Kultum Sebelum Shalat Tarawih”

  1. Barokallahu fyk, ustadz

    wafiik barokalloh, ana bkn ustadz.

  2. Mau nanya bacaan meluruskan shaf di atas itu gimana ya?

    اِسْتَوُوْا Istawuu artinya luruskan, تَرَاصُّوْا Taroshshuu artinya rapatkan.

    Terus bagaimana dengan bacaan sawwu sufu fakum dst. ?

    سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ
    Sawwuu shufuufakum fainna taswiyatash shaffi min tamaamish sholaah artinya “Luruskanlah barisan (shaf-shaf) kalian, karena sesungguhnya lurusnya barisan (shaf) termasuk kesempurnaan shalat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: