Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Ghibah

Jika seorang muslim yang berakal mau merenungkan dan memikirkan faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya ghibah dan namimah, maka akan didapatkan berbagai sebab,di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Wujud pelampiasan emosi dan peluapan kemarahan kepada orang lain yang ada di dalam dadanya. Untuk tujuan itu dia menggunjing, memfitnah atau mengadu domba dengan orang lain.
  • Dendam dan kebencian kepada orang lain. Dia menggunjing orang yang ia benci dengan menyebut-nyebut kejelekan orang tersebut untuk melampiaskan dendan dan meredam rasa benci di dadanya. Sifat seperti ini bukanlah akhlak kaum mukminin yang sempurna imannya. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar menyelamatkan kita dari sifat tersebut.
  • Keinginan untuk menonjolkan diri dan merendahkan orang lain, seperti mengatakan : “Fulan itu bodoh, tingkat pemahamannya rendah atau kurang atau susunan kata-katanya tidak bagus.” Secara bertahap ia mengomentari orang tersebut, menarik perhatian orang lain, sehingga dia bisa menampakkan kelebihan dan keunggulan dirinya. Selanjutnya ia pun berhasil membuktikan bahwa ia tidak memiliki kekurangan-kekurangan sebagaimana yang terdapat pada orang yang ia pergunjingkan.
  • Karena menyesuaiakan diri dengan lingkungan bergaul dan sahabat, serta bersikap manis dalam perkara yang bathil.  Ini dilakukan agar mendapat simpati mereka meski dengan mendapat kemarahan Allah Subhanahu wa ta’ala. Hal ini terjadi karena kelemahan iman dan kurang meresa diawasi oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
  • Untuk menampakkan keheranan terhadap pelaku maksiat. Sebagai misalnya seseorang mengatakan : “Tidaklah pernah kulihat orang yang lebih aneh daripada si fulan. Bagaimana ia bisa-bisanya salah, padahal ia adalah seorang yang pandai, terpandang, seorang alim atau kata-kata semisal itu.” Seharusnya ia tidak boleh menyebutkan nama orang tertentu.
  • Karena hendak mengolok-olok, menghina serta merendahkan orang lain.
  • Menampakkan rasa marah karena Allah Subhanahu wa ta’ala kepada orang yang melakukan kemungkaran. Orang tersebut menampakkan amarahnya dengan menyebutkan nama pelaku. Misalnya ia mengatakan : “Si fulan tidak malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan melakukan demikian dan demikian.” Demikianlah, dengan ghibah orang tersebut melanggar kehormatan orang lain.
  • Dengki. Orang yang menggunjing memiliki rasa hasad terhadap orang yang dipuji dan dicintai oleh banyak orang. Dikarenakan rasa dengki, pemahaman agama yang rendah dan kendali akal yang lemah, maka orang tersebut melakukan ghibah untuk menghilangkan nikmat yang terdapat dalam diri orang yang didengkinya. Dia tidak mendapatkan jalan untuk menghilangkan nikmat tersebut dan mengurangi kedudukan orang tersebut dari pandangan orang-orang yang mengaguminya kecuali dengan cara menggunjing dan menurunkan harga dirinya. Orang yang pendengki itu merupakan orang yang paling jelek akalnya dan paling kotor jiwanya. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar menyelamatkan kita dari sifat tersebut.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau bercerita :
Ada dua orang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seperti apa orang yang paling mulia?”
Beliau bersabda : “Setiap orang yang hatinya bersih dari hasad dan memiliki lisan yang  jujur.”
Para sahabat mengatakan : “Kami telah paham apa yang dimaksud dengan lisan yang jujur. Namun apa kiranya yang dimaksud dengan hati yang bersih?”
Beliau bersabda : “Hati yang bersih adalah hati yang bertaqwa lagi suci. Tidak ada padanya kejelakan, kedurhakaan, pengkhianatan dan rasa hasad.” [1]

  • Pura-pura menampakkan rasa kasih sayang dan keinginan untuk menolong orang lain. Misalnya dengan mengatakan kepada orang lain : “Kasihan sekali dia. Perbuatan maksiatnya sungguh telah membuatku sedih.”
  • Berkelakar, main-main, senda gurau dan melawak. Seorang yang berhati kotor menggunjing orang lain dengan menyebutkan aib orang tersebut sehingga membuat orang lain tertawa yang membuat ia merasa puas. Oleh karena itu ia makin berani berbohong dan menggunjing dengan maksud untuk sekedar bersenda gurau, mencela orang lain dan untuk menonjolkan diri sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Celakalah orang yang bercerita untuk membuat orang tertawa suatu kaum kemudian ia berdusta, celakalah dia dan celakalah dia.” [2]
  • Menuduh orang lain yang berbuat jelek supaya dirinya terbebas dari tuduhan itu. Misalnya dia mengatakan : “Si fulanah yang melakukannya, bukan saya.” Dia lalu berusaha mencela orang tesebut sehingga dirinya dapat terbebas dari tuduhan-tuduhan tersebut.
  • Kekhawatiran terhadap orang yang akan menjatuhkan martabatnya atau melecehkan di hadapan seorang pemuka, sahabat atau penguasa. Maka dia berusaha mendahului pembesar itu, kemudian menggunjing orang tersebut sehingga jatuhlah martabat dan harga dirinya dan ucapannya tidak lagi bisa dipercaya. [3]

______________

[1] HR Ibnu Majah no. 4216, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah 2/411 dan Ahadits Ash Shahihah no. 948.

[2] HR Tirmidzi 4/557, lihat Shahih Tirmidzi 2/268.

[3] Tathhirul ‘Aibah min Danasil Ghibah karya Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al Maki Al Haitami hal. 54, Fatawa Ibnu Taimiyah 28/236-238 dan 28/222-238.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: