Dapat Al Fatihah Dapat Satu Rakaat

Kapan makmum dianggap mendapatkan satu rakaat ketika dia masbuk, apakah ketika dia bisa ruku’ bersama imam atau ketika dia masih sempat untuk membaca Al Fatihah? Simak penjelasan berikut.

Penjelasan dari Al Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah

Dari Al-Hasan rahimahullah,

أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ , فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ , فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: أَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ ؟ , فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ: أَنَا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

“Bahwa Abu Bakroh pernah datang, sedang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ruku’. Maka Abu Bakroh ruku’ sebelum (masuk) shaff. Kemudian beliau berjalan menuju shaff. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan sholatnya sholatnya, maka beliau bersabda, “Siapakah diantara kalian yang ruku’ sebelum shaff, lalu ia berjalan menuju shaff”. Abu Bakroh menjawab, “Saya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat, jangan diulangi lagi”. [1]

Kata mereka, tadi Abu Bakrah langsung ruku’ berarti tidak membaca Al Fatihah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh untuk mengulangi shalatnya, akan tetapi perbuatan seperti itu jangan diulangi lagi. Maksudnya jangan tergesa-gesa belum sampai ke shaf dia sudah ruku’ kemudian menyusul.

Tapi yang benarnya dalam hadits ini tidak ada pendalilan, sebab di dalam hadits tidak diterangkan bahwa Abu Bakrah setelah itu menambah satu rakaat atau tidak. Kalau di dalam hadits dikatakan bahwa Abu Bakrah langsung salam dan tidak menambah satu rakaat, itu baru ada pendalilannya. Tapi karena tidak diterangkan, ini tidak bisa mengganggu gugat riwayat yang sangat kuat dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit riwayat Bukhari dan Muslim, tegas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.”

Dan ini berlaku bagi imam dan makmum.

Dengarkan langsung :

[download]

Pertanyaan :

Bagaimana kalau seorang makmum mendapati imam sedang ruku’, apakah dia dihitung mendapatkan satu rakaat?

Jawaban :

Ada sebagian hadits yang menjelaskan seperti itu, kalau dia mendapati imam ruku’ maka hitunglah satu rakaat, akan tetapi haditsnya lemah, ada seorang rawi di situ yang dikatakan oleh Imam Bukhari munkarul hadits. Dan ada jalan-jalan yang lain akan tetapi juga tidak kuat, maka haditsnya lemah. Ini tidak bisa mengganggu kedudukan hadits ‘Ubadah bin Shamit “Tidak ada shalat bagi oranga yang tidak membaca Al Fatihah”, dia tegas tentang wajibnya membaca al fatihah, itu adalah rukun shalat. Karena itu siapa yang ruku’ bersama imam dan belum membaca Al Fatihah maka dia harus menambah satu rakaat.

Dengarkan langsung :

[download]

Penjelasan dari Al Ustadz Abu Mu’aawiyah hafizhahullah

Pertanyaan :

Kapan seorang makmum dikatakan mendapatkan satu rakaat bersama imam, apakah yang menjadi patokannya adalah mendapati ruku’ atau mendapati Al Fatihah?

Jawaban :

Bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi patokan mendapat satu rakaat adalah harusnya membaca surat Al Fatihah maka dalilnya masyhur dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Ubadah bin Shamit Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah.”

Dan juga dalam hadits riwayat Muslim Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهْىَ خِدَاجٌ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan tidak membaca Al Fatihah di dalamnya, maka shalatnya itu kurang.”

Maka dalil-dalil ini jelas menunjukkan wajibnya membaca Al Fatihah, dan dia menjadi patokan untuk mendapatkan satu rakaat.

Sementara para ulama yang mengatakan bahwa yang menjadi patokan mendapatkan satu rakaat adalah ruku’ mereka berdalilkan dengan 3 hadits.

Yang pertama adalah hadits Abu Hurairah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّّلاَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّّلاَةَ قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإمَامُ صَلْبَهُ

“Barangsiapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka sungguh dia telah mendapati shalat secara menyeluruh, sebelum imam menegakkan tulang rusuknya.”

Maksudnya bahwa orang-orang yang mendapati imam, sebelum imam tegak dari ruku’nya maka dia dianggap mendapatkan 1 rakaat. Dan barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan telah menegakkan rusuknya, dalam artian sudah i’tidal maka ini sudah tidak mendapati 1 rakaat lagi.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ibnu Khuzaimah, Imam Daruquthni,  Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, serta Imam Al Baihaqi, dari jalan ‘Abdullah bin Wahhab dia berkata menceritakan kepadaku Yahya bin Humaid dari Qurrah bin ‘Abdirrahman dari Ibnu Syihab Az Zuhri dia berkata mengabarkan kepadaku Abu salamah Ibn ‘Abdirrahman dari Abu Hurairah.

Hadits ini dengan lafazh tambahan قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإمَامُ صَلْبَهُ adalah lafazh yang munkar. Karena hadits ini telah diriwayatkan dalam riwayat Bukhari Muslim dan yang selainnya dengan lafazh :

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّّلاَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّّلاَةَ

“Barangsiapa yang mendapati satu rakaat dari shalat maka dia telah mendapati seluruh shalat” sampai sini saja, tanpa ada tambahan :

قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإمَامُ صَلْبَهُ

“Sebelum imam menegakkan tulang rusuknya.”

Karena Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil mengingatkan bahwa tambahan ini adalah tambahan yang syadz. Beliau berkata : “Tambahan ini diucapkan oleh Yahya bin Humaid dari Qurrah.”

Sementara para perawi lain meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Syihab hanya sampai pada kalimat مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّّلاَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّّلاَةَ tanpa menyebutkan tambahan قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإمَامُ صَلْبَهُ. Maka Imam Ibnu ‘Adi menghukumi tambahan tersebut sebagai tambahan yang munkar. Dan juga Imam Bukhari menghukumi hadits ini sebagai hadits yang Yahya bin Humaid bersendirian di dalamnya. Beliau berkata “Yahya bin Humaid dari Qurrah dari Ibnu Syihab yang mana Ibnu Wahhab Al Mishry mendengar darinya tidak ada yang mengikuti riwayatnya.”

Jadi ini merupakan sisi kelemahan yang pertama, bahwa tambahan tersebut adalah tambahan yang syadz, bahkan bisa dikategorikan sebagai tambahan yang munkar. Karena Qurrah bin ‘Abdirrahman adalah rawi yang dho’if dan memiliki banyak riwayat yang munkar sebagaimana yang disebutkan dalam biografinya di kitab Tahdzib at Tahdzib karya Al Hafizh Ibnu Hajar.

Yang kedua juga hadits dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Jika kalian mendatangi shalat sementara kami sedang sujud maka ikut sujudlah kalian, dan jangan kamu anggap itu apa-apa, dan siapa yang mendapati ruku’ maka dia telah mendapati shalat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawus, Al Hakim, Ad Daruquthni, Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, dan Imam Al Baihaqi dari jalan Sa’id ibnu Abi Maryam dia berkata menceritakan kepada kami Nafi’ bin Yazid dia berkata menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Sulaiman Al Madany dari Zaid ibnu Abil Itab dan Sa’id Al Makbury dari Abu Hurairah.

Sanad ini adalah sanad yang lemah dikarenakan Yahya bin Abi Sulaiman adalah rawi yang dho’if, maka hadits Abu Hurairah riwayat Abu Dawud dan yang selainnya ini adalah hadits yang lemah. Dan tidak bisa dijadikan pendukung hadits Abu Hurairah yang sebelumnya, karena hadits Abu Hurairah yang telah berlalu adalah tambahan قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الإمَامُ صَلْبَهُ “Sebelum imam menegakkan tulang rusuknya”, dan ini adalah riwayat yang syadz. Dan riwayat yang syadz (menyelisihi para perawi yang lainnya) itu tidak bisa mendukung dan juga tidak bisa didukung di dalam ilmu mustholah hadits.

Yang ketiga hadits Mu’adz bin Jabal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ وَجَدَنِي قَائِمًا أَوْ قَاعدًا أَوْ سَاجِدًا أَوْ رَاكِعًا فَلْيَكُنْ مَعِي عَلَى تِلْكَ الْحَالِ وَلاَ يَعْتَدُّوْا بِالسَّجْدَةِ حَتَّى يُدْرِكَ الرَّكْعَةَ

“Barangsiapa yang mendapati aku sedang berdiri atau sedang duduk atau sedang sujud atau sedang ruku’, maka hendaklah dia langsung masuk mengikutiku. Dan jangan dianggap mendapati rakaat dengan sujud sampai mendapati ruku’.”

Hadits ini adah hadits yang munkar tidak diketahui siapa yang meriwayatkan hadits ini. Akan tetapi hadits ini disebutkan oleh Imam Ad Daruquthni dalam Al ‘Ilal (kitab yang khusus mengumpulkan hadits-hadits yang catat). Disebutkan dari hadits ‘Abdul ‘Aziz bin Rufai’ dari Ibnu Abi lailah dari Mu’adz bin Jabal. Dan ini merupakan hadits yang munkar karena murid-murid dari Abdul ‘Aziz bin Rufai’ berbeda  dalam meriwayatkan hadits ini. Murid beliau yang pertama yang bernama ‘Abdurrahman bin Amr bin Jabalah meriwayatkan hadits ini dari Yazid bin Zurai’ dari Syu’bah dari ‘Abdul ‘Aziz bin Rufai’ secara maushul (bersambung sampai kepada Nabi). Sementara Imam Ats Tsauri, Zuhair, Jarir, dan Syarik bin ‘Abdillah An Nakhai semuanya meriwayatkan dari ‘Abdul ‘Aziz bin Rufai’, beliau berkata menceritakan kepadaku seorang syaikh dari Al Anshor langsung dari Nabi secara mursal. Maka periwayatan yang salah dalam hal ini adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jabalah yang mana dia meriwayatkan dari Yazid bin Zurai’ dari Syu’bah dari ‘Abdul ‘Aziz bin Rufai’.

Atau ada dua jalan periwayatan dari ‘Abdul ‘Aziz bin Rufai’ :

  • Yang pertama adalah secara maushul (disebutkan siapa shahabatnya kemudian langsung ke Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang meriwayatkan adalah dari jalan ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jabalah dari Yazid bin Zurai’ dari Syu’bah.
  • Yang kedua adalah secara mursal (dari tabi’i tidak disebutkan shahabatnya langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang meriwayatkan adalah Sufyan Ats Tsauri, Zuhair, Jarir, dan Syarik bin ‘Abdillah An Nakhai .

Maka di sini tentunya riwayat yang lebih kuat adalah riwayat yang mursal karena di dalamnya terdapat Sufyan Ats Tsauri, Zuhair, Jarir, dan dari rawi-rawi yang tsiqah, sementara ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jabalah adalah rawi yang matruk (yang ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ad Daruquthni. Sehingga wajar dalam hal ini dia keliru dalam meriwayatkan hadits dari Yazid bin Zurai’ dari Syu’bah secara mursal. Padahal riwayat sebenarnya dari Syu’bah sama seperti riwayat Sufyan Ats Tsauri dan yang lain. Maka dalam hal ini jelas yang bersalah adalah ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jabalah yang keliru dalam meriwayatkan hadits Syu’bah, dia kira bahwa Syu’bah meriwayatkannya secara maushul padahal yang benar Syu’bah meriwayatkannya secara mursal, sama seperti Sufyan Ats Tsauri dan yang selainnya.

Maka tidak ada hadits yang shohih dan tidak bisa saling menguatkan satu dengan yang lain. Semua hadits-hadits yang menunjukkan bahwa yang menjadi patokan mendapat satu rakaat adalah ruku’, semuanya adalah hadits yang lemah. Sekaligus menunjukkan pendapat yang kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang mejadi patokan mendapatkan satu rakaat atau tidak adalah membaca Al Fatihah, berdasarkan sabda Nabi :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.”

Demikian secara ringkas, wallohu a’lam bish showab.

Dengarkan langsung :

[download]

_____________

[1] HR Abu Dawud dalam Sunan-nya (683 & 684), Ahmad dalam Al-Musnad (20421, 20452, 20475, 20476, 20488, 20528), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2415, 4997, 4998, & 4999), dan selainnya. Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (230).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: