Sekilas Tentang Pelafazhan “At Tatswib”

At Tatswib disyariatkan berdasarkan hadits Abul Mahdzurah yang berbunyi :

فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Jika shalat Subuh, aku mengucapkan الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُa.” [1]

At Tatswib الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ berarti “Shalat Lebih Baik daripada Tidur”. Di masyarakat didapati ada yang membaca At Tatswib di akhirnya dengan memanjangkan huruf U pada lafadz مِنَ النَّوْمِ Minan Nauum. Ada juga yang memendekkannya Minan Naum, yaitu hanya dengan satu harokat.

Yang memendekkan beralasan karena pada kata النَّوْمِ An Naum, huruf نَ Nun yang berharokat Fathah setelahnya adalah huruf وْ Wawu yang berharokat Sukun. Maka huruf Nun dibaca pendek, karena Wawu Sukun fungsinya adalah untuk memanjangkan huruf yang berharokat Dhommah.

Contohnya :

Al Khoufu, dibaca pendek karena sebelum wawu sukun hurufnya berharokat fathah  الخَوْفُ

An Naumu, dibaca pendek karena sebelum wawu sukun hurufnya berharokat fathah النَّوْمُ

  Al Qubuuru, dibaca panjang karena sebelum wawu sukun hurufnya berharokat dhommah الْقُبُوْرُ

Ar Ruuhu, dibaca panjang karena sebelum wawu sukun hurufnya berharokat dhommah الرُّوْحُ

Juga kalau membaca An Naum-nya lebih panjang daripada Ash Sholah, nanti orang akan memilih tidur daripada Shalat.

Maka jawaban orang yang memanjangkan pada lafazh النَّوْمِ An Naum :

Sebuah kata yang huruf kedua dari belakangnya adalah وْ wawu mati, dan sebelumnya adalah huruf yang harokatnya fathah. Maka cara membacanya jika terletak di awal atau tengah kalimat atau di akhir kalimat yang tidak diwaqafkan (diteruskan membaca kalimat setelahnya), maka dibaca pendek (1 harokat) tanpa dipanjangkan. Namun bila terletak di akhir kalimat dan diwaqafkan di situ, maka dibaca panjang 2-6 harokat.

Hukum ini biasanya disebut Mad Lin atau Mad Layyin, yaitu jika wawu sukun atau ya’ sukun didahului oleh huruf yang berharokat fathah. Maka kalau berhenti dibaca 2-4-6 harokat, tetapi kalau dibaca terus panjangnya hanya 1 harokat.

Contoh, pada Surat Al Quraisy :

Jika diwaqafkan tiap ayat

لإيلافِ قُرَيْشٍ

Li iilaa fi Quraiiiisy

إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

Iilaa fihim rihlatasysyitaaa i wash shoiiiif

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

Falya’buduu rabba haadzal baiiiit

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Alladziii ath’amahum min juu’iw wa aamanahum min khouuuuf

Jika dibaca sambung

لإيلافِ قُرَيْشٍ إِيلافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

Li iilaa fi Quraisyin iilaa fihim rihlatasysyitaaa i wash shoiiiif.

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Falya’buduu rabba haadzal baitil ladziii ath’amahum min juu’iw wa aamanahum min khouuuuf.

Sehingga pelafazhan Ats Tatswib yang benar adalah dengan dibaca panjang pada kata An Nauum.

Contoh pelafazhan At Tatswib yang benar :

Jika beralasan “Kalau membaca An Naum-nya lebih panjang daripada Ash Sholah, nanti orang akan memilih tidur daripada Shalat.” Maka ini bukanlah dalil, tapi hanya persangkaan sebagian orang saja.

Allohu a’lam

___________________

[1] HR Abu Dawud, no. 501, An Nasa-i, 2/7-8 dan Ahmad 3/408, dan dishahihkan al Albani di dalam Takhrij al Misykah no. 645.

Maroji’ :

  1. Kajian Kitab Qowa’idut Tajwid bersama Al Ustadz Abu Juhaifah hafizhahullah.

2 Komentar to “Sekilas Tentang Pelafazhan “At Tatswib””

  1. Mohon penjelasannya,
    apakah cara melafazh-kan adzan harus sesuai dengan ilmu tajwid ? bila demikian, bagaimana dengan pe-lafazh-an takbir dalam adzan yang lazim kita dengar dengan memanjangkan loooooh pada Allah lebih dari 2 harakat ?
    bukankah di dalam ilmu tajwid juga beberapa hal yg gharib ?
    apakah adzan yang dikumandangkan di masjidil haram serta masjid-masjid di mekah tidak bisa dijadikan contoh ?

    jazakallahu khoyr…

    Setau ana iya, sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, tentang memanjangkan atau melagukan adzan setau ana hukumnya adl makruh, karena telah menyalahi kaidah b.arab di mana mad yang dibaca panjangnya melebihi yang semestinya. Kl menyalahi kaidah b.arab yang tanpa mengubah arti maka hukumnya makruh, tetapi kl sampai mengubah arti, maka hukumnya haram. Dan untuk memperindah adzan tidak mesti harus memanjangkannya melebihi yg semestinya, seperti halnya di ma’had-ma’had ahlus sunnah, kumandang adzannya tetap indah walaupun tidak panjang dan tidak mendayu-dayu.

    Tentang adzan di Masjidil Haram dan Masjid lain di Makkah apakah bisa dijadikan contoh atau tidak, ana tidak tau, wallahu a’lam, wa jazakallahu khairan wa barakallahu fiik.

  2. jadi yang bener itu yang panjang? Selama ini ana kira yang bener adlh yang memendekkan bacaannya.

    iya yang memanjangkan, penjelasannya ada di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: