Sekilas Tentang Penulisan Ucapan “Jazaakallaahu Khairan”

Rasululloh Shallallohu alaihi wasallam bersabda :

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : Jazaakallaahu Khairaa (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” [1]

Kalimat جَزَاكَ الله خَيْرًا jika dituliskan dengan menggunakan penulisan latin menjadi “Jazaakallaahu Khairan”, ada juga yang menulis dengan “Jazakallahu Khairan” tanpa memanjangkan huruf zay dan lam-nya. Hal ini mungkin untuk memudahkan penulisan saja, akan tetapi insya Allah maksudnya sama. Sama seperti ketika kita menulis lafazh الله , jika sesuai dengan panjang pendeknya maka yang benar adalah Allaah, dengan memanjangkan huruf lam. Akan tetapi untuk memudahkan penulisan maka kita tulis dengan Allah, yang maksudnya sama dengan penulisan yang pertama tadi.

Kalimat جَزَاكَ الله yang berarti “Semoga Allah membalas-mu“, ini digunakan jika kita akan mengucapkannya kepada lawan bicara kita yang hanya seorang laki-laki. Dalam bahasa arabnya disebut Anta yang berarti “Kamu (laki-laki)”. Yang menunjukkan untuk seorang laki-laki yg sedang kita ajak bicara yaitu pada huruf كَ kaf. 

Jika ingin mengucapkannya pada selainnya maka diganti dhomir muttasil-nya (kata ganti yang penulisannya bersambung dengan kata sebelumnya) sesuai dengan ketentuannya masing-masing :

Kata خَيْرًا yang berarti “(dengan) kebaikan”, jika ditulis dengan penulisan latin maka menjadi “Khairan”, dan jika disukun pada akhirnya maka menjadi “Khairaa”. Ada yang menulisnya dengan “Khaira” tanpa memanjangkan ra’-nya. Hal ini sama seperti dalam penjelasan sebelumnya, yaitu hanya digunakan untuk memudahkan penulisan, akan tetapi maksudnya sama.

Karena pada kata خَيْرًا huruf ra’-nya berharakat fathah tanwin. Yang juga di sana terdapat alif  sebagai tanda pada kata yang di-nashob (dibaca fathah). Sehingga, huruf ra’-nya ketika diwaqaf, tidak dibaca sukun dengan mematikan ra‘. Akan tetapi tetap membacanya dengan panjang 2 harakat atau yang disebut dengan Mad ‘Iwadh.

Hal tersebut sama dengan kata yang terdapat dalam Al Qur’an, seperti pada surat Al Insyiqaq ayat 8, 9 & 11, pada kata yang terakhir di setiap ayat :

يَسِيرًا dibaca “Yasiiraa”

مَسْرُورًا dibaca “Masruuraa”

ثُبُورًا dibaca “Tsubuuraa”

Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Kenapa tidak dibaca “Khair”? Seperti kalau kita menjawab ketika ditanya “Kayfa Haaluk?” Maka kita menjawab “Ana bi khair“.

Maka jawabannya, kata “khair” pada kalimat “Ana bi khair” ini berbeda harakat akhirnya. Kalau yang tadi berharokat fathah, maka yang ini berharokat kasroh atau sering disebut dengan jar, karena kemasukan huruf jar ba’. Jika dituliskan بِخَيْرٍ , jika diwaqafkan maka ra’-nya bisa disukun, sehingga dibaca “bi Khair”.

Allohu a’lam

________________________

[1] HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi.

Maroji’ :

  1. Al Qur’anul Karim
  2. Tuhfatus Saniyyah syarah Al Ajurrumiyyah, Muhammad Muhyidin Abdul Hamid.
  3. Kajian Kitab Qowa’idut Tajwid bersama Al Ustadz Abu Juhaifah hafizhahulloh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: